Home

Jangan Bingung!

“Apa cita-citamu?”, ujar guru SD saya saat itu. Saya masih ingat ketika teman-teman menjawab ingin menjadi dokter, guru, pilot atau polisi, saya menjawab, “Aku ingin tinggal di Eropa.”

Bagaimana tidak, ketika rata-rata pajangan di dinding ruang tamu adalah lukisan pemandangan, abstrak atau foto keluarga, orang tua saya memajang peta dunia dengan ukuran hampir seperempat ruangan. Setiap hari di rumah kami yang sempit, saya melihat bagaimana bentuk negara yang berbeda-beda. Perhatian saya tertuju kepada benua Eropa, membuat saya ingin menjelajahi setiap sudutnya. Setiap hari saya menatap peta itu dan bertanya, “Bagaimana ya caranya supaya bisa ke Eropa?”

Yang jelas saya tidak mungkin meminta uang dari orang tua. Untuk membayar uang sekolahpun, Ibu terkadang harus meminjam uang dari tetangga dan saudara. Satu-satunya cara adalah dengan menjadi anak yang cerdik dan mendapatkan beasiswa supaya bisa sekolah ke luar negeri. Sayangnya tidak ada jurusan ‘Ilmu ke Eropa’ pada saat itu dan saya tidak menemukan beasiswa untuk mewujudkannya. Saya tertarik mempelajari hubungan ekonomi, politik, sosial dan budaya antar negara, sehingga saya berpikir, mungkin dengan belajar Ilmu Hubungan Internasional, setelah lulus bisa ke luar negeri.

Jadi, mengenali minat dan bakat diri kita sendiri itu penting, memahami apa yang ingin diraih di masa depan dan bagaimana cara mencapainya. Perdalam kemampuan yang dibutuhkan dunia saat ini dan di masa mendatang. Jangan bingung!

Jangan Merasa Cukup!

Saat itu saya berpikir, “Jadi duta besar sepertinya enak, bisa tinggal di luar negeri, bisa berinteraksi dengan orang- orang dari berbagai negara, siapa tahu bisa ditempatkan di Inggris.”

Berbekal S1 Ilmu Hubungan Internasional, dua kali saya gagal mengikuti seleksi Kementerian Luar Negeri. “Oh ya sudah, kerja di organisasi internasional saja,” lalu saya bekerja di dua organisasi yang berbeda. Tetapi saya masih belum bisa ke luar negeri. Saya sadar bahwa semua hal membutuhkan proses dan tidak ada segala sesuatu yang instan. Karena itu, tidak boleh putus asa.

Akhirnya saya diterima bekerja di maskapai penerbangan bintang lima terbesar di Indonesia. Tanggung jawab pekerjaan dan fasilitas yang didapat sebagai pegawai membawa saya mengunjungi berbagai negara di dunia, termasuk negara-negara di Eropa. Tetapi saya belum puas, “Masih ingin tinggal disana, bukan mengunjunginya sebagai turis.”

SAM_0358

Saat melaksanakan survei operasional bandar udara Darwin, Australia

Saya terus berusaha melamar beasiswa untuk dapat melanjutkan pendidikan di luar negeri dan terus mendapatkan email penolakan dari berbagai lembaga pemberi beasiswa. Tetapi tidak ada gunanya bersedih hati. Saya menjadikan begitu banyak penolakan sebagai motivasi dan mengatur strategi mulai dari berlatih menyusun aplikasi beasiswa, menulis essay, wawancara, hingga public speaking. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan daya saing yang membuat kita unggul dari pelamar beasiswa lainnya.

Jadi, membangun karakter diri kita serta mengembangkan hard skills seperti kemampuan akademik dan teknis, soft skills seperti kemampuan memimpin dan berkomunikasi itu penting. Jangan pernah merasa cukup!

Jangan Malu Bertanya!

Terkadang Google tidak tahu segalanya. Saya mencoba mengetik nama saya di kolom search, Google tidak tahu jika saya ingin tinggal di Eropa.

Jadi jika ingin tinggal di luar negeri, carilah informasi sebanyak-banyaknya mengenai universitas yang kita inginkan, beasiswa yang tersedia, ataupun lowongan pekerjaan dan jenjang karir setelahnya. Jangan malu atau gengsi bertanya kepada alumni dan lembaga yang menyediakan jasa serupa.

Apakah saya malu bertanya? Pada saat itu jawabannya iya. Tahun 2014 saya menerima beasiswa dari pemerintah Turki, Türkiye Bursları (YTB) untuk melanjutkan pendidikan S2 di Istanbul University. Saya terlalu bahagia bahwa akhirnya mampu menginjakkan kaki di negeri yang berada di perbatasan Asia dan Eropa. Saya berhasil tinggal di Eropa, tanpa bertanya terlebih dahulu apakah kehidupan dan sistem perkuliahan di Turki sesuai dengan minat dan bakat saya.

Sambil mencari tahu beasiswa lain apa yang sekiranya mau memberikan kesempatan, saya mencari pengalaman kerja dengan menjadi Research Assistant di organisasi islam internasional di Ankara. Bahkan, musim panaspun saya lalui dengan menjadi Summer Camp Coach untuk anak-anak di Fethiye. Informasi lowongan ini juga hasil dari bertanya dari teman Turki. Google sama sekali tidak memberikan keterangan apa-apa.

Ternyata bekerja di Turki mengasyikkan. Namun saya kembali bertanya, “Apakah ini yang saya inginkan?” Saya teringat peta dunia yang terpampang di ruang tamu rumah orang tua saya dan memutuskan, “Saya ingin ke Inggris, tetapi bagaimana caranya?”

Hasil penelusuran dan bertanya kesana kemari membuat saya bertekad mengajukan aplikasi untuk beasiswa LPDP, beasiswa yang dikelola oleh Kementerian Keuangan Republik Indonesia. Saya ingin belajar International Business di University of Leeds. Program ini meraih peringkat pertama di Inggris dan peringkat kedua di dunia versi Financial Times, 2016. Kali ini, saya tidak lagi berpikir hanya dengan belajar Ilmu Hubungan Internasional saja saya bisa melanjutkan karir di luar negeri, tetapi selama setiap negara di dunia masih memiliki sumber daya yang berbeda, hubungan bisnis penting untuk kelangsungan perekenomian. Saya ingin menguasai analisa bisnis internasional yang berbeda di setiap negara, sehingga dapat menyusun strategi untuk memaksimalkan pendapatan.

IMG-1758

Menjadi anggota panitia pelaksana acara seminar nasional di University of Leeds

Jangan Menyerah!

Melamar beasiswa adalah tugas penuh waktu yang membutuhkan fokus dan komitmen. Prosesnya relatif rumit. Banyak orang yang mundur karena syarat kelengkapan administrasi yang cukup banyak dapat menyurutkan semangat, padahal proses seleksi sudah dimulai dari tahap mengumpulkan berkas itu.

Untuk memudahkan proses pendaftaran, ada baiknya jika kita menyusun timeline  dan daftar hal apa saja yang diperlukan. Berikut persiapan yang saya lakukan dalam masa tiga bulan sampai akhirnya saya berhasil memperoleh beasiswa LPDP pada tahun 2016:

  1. Mengikuti tes IELTS.Saya mempelajari materi IELTS secara otodidak selama 3 minggu sebelum akhirnya mengikuti tes.
  2. Melengkapi syarat administrasi mendaftar universitas dan beasiswa. Sambil menunggu hasil tes IELTS, saya melengkapi syarat administrasi seperti surat referensi, CV, motivation letter, dll
  3. Mendaftar universitas. Setelah mendapatkan skor IELTS, mendaftar universitas di Inggris.
  4. Melamar beasiswa. Setelah mendapatkan surat penerimaan dari universitas, melengkapi aplikasi pendaftaran beasiswa LPDP secara online.

Begitupun halnya dengan bekerja di luar negeri. Persaingan yang ketat kadang membuat kita putus asa. Di Inggris, saya harus bersaing dengan pelamar dari Inggris dan negara-negara Uni Eropa lainnya. Ratusan aplikasi lamaran saya kirimkan, ratusan penolakan saya dapatkan. Setiap selesai membaca email penolakan, saya selalu tersenyum dan berkata pada diri sendiri, “Ini belum berakhir, saya pasti mampu!”

Ketika banyak mahasiswa Indonesia memanfaatkan waktu tiga bulan terakhir masa perkuliahan S2 yang hanya satu tahun dengan travelling keliling Eropa, saya memulai hari pukul 06.00 pagi dengan melayani pelanggan, membuat sandwich dan menyeduh kopi. Ya, saya bekerja sebagai pelayan restoran cepat saji terkenal di Inggris. Kadang-kadang lucu juga ketika teman-teman datang ke toko dan senyum-senyum ketika memesan dari saya. Tetapi saya senang. Kerja paruh waktu yang saya jalani sambil menyelesaikan disertasi membuat saya mengetahui bagaimana sesungguhnya budaya dan sistem kerja orang Inggris dan saya kagum dengan profesionalisme yang setiap orang dedikasikan untuk pekerjaannya, apapun itu.

Selama tiga bulan bekerja sebagai pelayan restoran, saya terus melamar berbagai pekerjaan dan menghadiri tes seleksi serta wawancara. Akhirnya, saya mendapat jawaban penerimaan dari salah satu perusahaan bakery terbesar di Inggris untuk bergabung menjadi Business Analyst. Dengan pekerjaan ini, saya dapat mengaplikasikan ilmu dan keterampilan yang saya peroleh dari pendidikan dan pengalaman kerja sebelumnya.

IMG-20180629-WA0001

Di kawasan perkantoran Bridgewater Place, Leeds

 

Berikut persiapan yang saya lakukan sebelum mendapatkan pekerjaan:

  1. Memperkaya CV. Saya mengikuti tata cara penulisan CV di Eropa, berbekal informasi dari internet dan career center di universitas. Saya juga membuat video CV agar lebih menarik.
  2. Mencari informasi dan melamar pekerjaan sebanyak-banyaknya. Menghadiri job fair/ career event sudah menjadi agenda rutin bagi saya, bahkan yang ada di luar kota sekalipun. Saya juga berusaha memaksimalkan semua layanan yang diberikan oleh situs lowongan pekerjaan dan agen rekrutmen.
  3. Menjalin networking. Memanfaatkan media sosial profesional, seperti LinkedIn sangatlah penting. Tidak hanya itu, saya juga selalu berusaha menjalin keakraban ketika hadir pada acara-acara gathering, dinner, social event, dll.
  4. Meningkatkan kualitas diri. Selalu sadar dengan tren yang ada di sekitar serta kemampuan teknis dan sosial apa yang sedang dibutuhkan dan dicari di dunia pekerjaan.

Jangan Dengarkan Pendapat Negatif

Selama kita hidup dan berbaur dengan orang-orang yang berbeda karakter, akan selalu saja ada pendapat negatif.

Saya lahir dan besar di Bukittinggi, Sumatra Barat sebelum akhirnya pindah ke Jakarta untuk menempuh pendidikan di perguruan tinggi dan bekerja. Saya ingat ketika SMA, selalu terdengar cemoohan orang, “Tuh mau ke luar negeri.” Mereka berbisik-bisik sambil cekikikan karena pada saat itu saya gagal berangkat untuk pertukaran pelajar ke Perth, Australia. Walaupun akomodasi ditanggung, setiap peserta diharuskan membayar tiket pesawat sendiri. Saya dan orang tua berusaha meminta bantuan kepada dinas pendidikan kota, namun jumlah uang yang diberikan tetap tidak mencukupi biaya saya berangkat ke negeri kangguru itu.

Berkarir di luar negeripun kadang menimbulkan respon negatif dari komunitas. Memberikan kontribusi untuk negara bukan berarti kita harus ada di negara itu. Banyak tokoh panutan yang mampu berbakti kepada negara dari jauh, mengharumkan nama bangsa, menyusun program-program sosial dan membantu masyarakat. Banyak cara yang dapat ditempuh untuk mengabdi, apalagi hidup pada era dijital menjadikan segala sesuatu terasa mudah.

Setelah Inggris, melanjutkan karir di Belanda adalah langkah saya berikutnya. Saya mengambil kesempatan yang diberikan pemerintah Belanda kepada lulusan universitas 200 besar dunia dengan visa yang dinamakan Orientation Year Visa. Pemegang visa ini diperbolehkan bekerja full time di Belanda. Proses pengajuan visa ini tidaklah rumit dan saya mendapatkan visa ini dalam waktu satu bulan. Sedangkan proses melamar pekerjaan di Belanda sudah saya mulai tiga bulan sebelum berangkat. Saya kembali melanjutkan pekerjaan saya sebagai Business Analyst pada salah satu perusahaan multinasional di Belanda.

IMG-1879

Bersama kolega perusahaan di Belanda yang berasal dari negara yang berbeda-beda

Jadi, selama kita yakin dengan rencana yang sudah kita buat, fokus dan berkomitmen untuk mencapainya, jangan pernah dengarkan komentar negatif orang lain. Jadikan hal itu sebagai motivasi kita untuk membuktikan bahwa siapa saja mampu asalkan mau.

Jangan Mengeluh!

Nikmati setiap prosesnya. Selalu saya katakan, “Orang lain sudah sampai di halaman 100, saya masih ada di halaman 40 tapi jika terus membalik halaman, akhirnya saya akan sampai juga di halaman 100.”

Saya senang dapat menempuh pendidikan di fakultas bisnis, University of Leeds. Banyak acara-acara sosial seperti gala dinner atau sosial and cultural event yang turut dihadiri program direktur dan tim akademis. Bahkan PPI Leeds sering mengadakan acara seperti seminar atau pameran kebudayaan. Saya sempat menjadi Hanoman, menari Bali dan menari Betawi pada acara seni budaya Indonesia yang diselenggarakan di universitas. Bahagia rasanya bisa aktif dalam kegiatan bersama mahasiswa Indonesia lainnya.

IMG_1978

Menjadi Hanoman saat menari Kecak

Saya juga terbantu dengan perkuliahan di fakultas bisnis University of Leeds yang dilaksanakan dengan memanfaatkan pengunaan teknologi dijital. Seluruh mahasiswa dibekali iPad yang dibagikan secara gratis. iPad ini digunakan sebagai sarana belajar-mengajar. Mulai dari absensi kehadiran, akses seluruh materi perkuliahan, mengisi survei, mengikuti quiz, bahkan berinteraksi dengan dosen dan mahasiswa lainnya. Belajar terasa lebih mudah.

Saya senang ketika kuliah dan bekerja, saya berkumpul dan berinteraksi dengan orang-orang dari beragam budaya. Suasana multikultural yang juga mempengaruhi perilaku kita untuk menghargai orang lain. Tidak ada orang yang menghakimi ketika saya berhenti sejenak melakukan aktivitas karena harus menunaikan sholat atau pulang lebih awal ketika berpuasa pada bulan ramadan.

Meskipun harus memulai karir dari awal lagi, saya berusaha untuk tidak mengeluh. Setiap membayangkan teman-teman yang dengan gelar barunya sudah mampu menduduki posisi dengan level atas di Indonesia, saya kembali mengingatkan diri saya, “Bukunya berbeda, saya tidak bisa membandingkan satu buku pada halaman 100 dan buku yang lain pada halaman 40.” Setiap orang akan mempunyai waktu yang tepat.

Banyak hal yang dapat kita syukuri. Jadi, jangan mengeluh!

Jangan Lupa Berdoa!

Apabila segala usaha telah kita lakukan, doalah yang paling ampuh untuk mewujudkan mimpi. Apapun rencana yang sudah kita susun, Tuhan yang akan menentukan jalan terbaik untuk hidup kita.

Saya selalu berdoa agar Tuhan mengabulkan doa atau mengarahkan saya pada hal lain yang menurutNya lebih baik. Doa adalah bentuk kecintaan dan ketergantungan kita terhadap Tuhan. Jadi, penting untuk mengingat bahwa apapun yang terjadi pada diri kita adalah kehendakNya. Saya juga tidak tahu akan menjalani hidup di negara mana lagi setelah ini, perjalanan saya belum berakhir, tetapi sebagai manusia saya meminta izinNya untuk memberkahi segala sesuatu yang dilakukan.

Meskipun peta dunia berukuran seperempat ruangan tidak lagi dipajang orang tua saya di ruang tamu karena sudah lapuk dimakan usia, tetapi masih tersimpan rapi sebagai pengingat bahwa saya menjaga mimpi sejak kecil dan bertekad untuk mewujudkannya. Terima kasih Tuhan, saya sudah mengelilingi Eropa.

Jika saya pulang, saya akan membuka kembali peta itu dan berkata, “Aku sudah tinggal di Eropa.”

Sukses untuk kita semua!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.