Home

Mengundurkan diri dari beasiswa YTB dan tidak menyelesaikan pendidikan saya di Turki membuat saya memiliki banyak waktu luang. Waktu ini saya manfaatkan dengan bekerja dan menambah pengalaman. Cerita tentang bagaimana saya memperoleh beasiswa YTB, saya tulis di artikel ini, alasan mengapa saya tidak melanjutkan kuliah di Istanbul University saya tulis disini dan apa yang saya lakukan setelahnya saya ceritakan di bagian ini.

Saya kembali ingat tujuan saya semula adalah mendapatkan gelar master dari universitas di luar negeri dengan beasiswa. Bekerja di Turki bukanlah keinginan saya dan rasanya saya tidak ingin lagi tinggal di negara ini. Saya masih memiliki 1,5 bulan sebelum kembali ke Indonesia.

Waktu 1,5 bulan saya gunakan dengan mempersiapkan semua dokumen yang diperlukan untuk mendaftar universitas di Inggris dan beasiswa. Yang saya tahu waktu itu saya masih ingin belajar International Business, tetapi dengan begitu banyak universitas ternama di Inggris, saya bingung perguruan tinggi manakah yang sebaiknya saya pilih. Saya tidak ingin kejadian di Turki terulang kembali.

Saya akhirnya meminta bantuan IBEC (Indonesia-Britain Education Centre). Layanan konsultasi gratis dari IBEC membuat saya memutuskan untuk memilih University of Leeds (UoL), dimana program MSc International Business di UoL menduduki peringkat pertama di Inggris dan kedua di dunia versi Financial Times. UoL secara umum berada dalam posisi 100 besar dunia (QS/THE/ARWU). Tidak hanya itu, IBEC juga membantu saya dalam proses pendaftaran sehingga saya tidak perlu mengirimkan dokumen langsung ke universitas. Semua diproses langsung oleh agen resmi pendidikan di Inggris ini, gratis.

Walaupun target saya adalah UoL, tetapi saya juga mengirimkan aplikasi kepada lima universitas lainnya, sebagai alternatif apabila tidak diterima di UoL. University of Birmingham, Newcastle University, University of Edinburgh, University of Liverpool dan Brunel University menjadi pilihan saya.

Setelah memantapkan pilihan, saya menyiapkan diri untuk mengikuti tes IELTS sebagai senjata utama melamar universitas dan beasiswa. Setiap hari saya berlatih mengerjakan soal yang saya kumpulkan dari internet dan teman-teman. Dua set soal (Reading, Listening dan Writing) saya kerjakan setiap malam, lengkap dengan pembahasannya. Untuk tes Speaking, saya hanya melihat tips dan triks dari video yang diunggah di YouTube. Saya rangkum soal-soal latihan saya disini. Setelah tiga minggu persiapan, saya mengikuti tes IELTS di Istanbul. Hasilnya total skor yang saya peroleh 7,5 dengan skor Reading 7,5; Listening 7,5; Speaking 7,5; Writing 7. Saya bersyukur bahwa saya hanya perlu mengikuti satu kali tes, karena keterbatasan waktu pendaftaran beasiswa dan uang yang saya miliki pada saat itu.

Ketika menunggu hasil IELTS diumumkan, saya meminta referensi dari dosen saat belajar bahasa Turki dan atasan saya ketika bekerja di Garuda Indonesia. Surat referensi ini saya susun sendiri. Mantan dosen dan atasan saya hanya perlu menandatanganinya. Pada saat itu, saya berniat untuk melamar dua beasiswa untuk dapat melanjutkan kuliah di Inggris; Chevening yang diberikan oleh pemerintah Inggris dan LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan) yang dikelola oleh Kementerian Keuangan Republik Indonesia. Karena melamar enam universitas dan dua beasiswa, total delapan surat yang ditandatangani oleh mereka. Saya sempat dua kali melamar beasiswa Chevening sebelumnya dan tidak lulus seleksi administrasi. Untuk beasiswa LPDP, saya bahkan tidak pernah mendengar informasi apapun, mungkin karena kurangnya sosialisasi dari pihak penyelenggara. Informasi beasiswa ini saya peroleh dari salah satu teman.

IMG_0695

Dosen Bahasa Turki di Istanbul University

PicsArt_1381982416851-01

Manager dan Tim saya ketika bekerja di Garuda Indonesia

Setelah melengkapi semua dokumen, ijazah dan transkrip nilai yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris; CV; sertifikat IELTS; dua surat referensi; dan motivation letter, saya mengirimkan scanned copy berkas melalui email kepada IBEC untuk diteruskan kepada enam universitas yang saya lamar. Hasilnya, seluruh universitas menerima saya dengan rentang waktu antara tiga minggu sampai dua bulan. Newcastle University mengirimkan surat penerimaannya dalam waktu tiga minggu dan UoL mengirimkannya dalam waktu dua bulan.

Kembali ke Indonesia, saya langsung mengurus SKCK yang dibutuhkan untuk melamar beasiswa LPDP. Ketika melamar beasiswa LPDP untuk pertama kali, saya masih menunggu jawaban dari UoL. Melampirkan surat penerimaan dari universitas ketika melamar beasiswa LPDP merupakah nilai tambah yang membuat pelamar unggul. Jadi kesempatan pertama pendaftaran, saya mencantumkan University of Birmingham sebagai pilihan. Pada tahun 2016 pilihan universitas luar negeri untuk beasiswa LPDP masih terbuka luas, selama satu tahun terdapat empat periode pendaftaran dan pelamar diberikan dua kali kesempatan untuk mengikuti seleksi substansi. Di sisi lain, beasiswa Chevening tidak mensyaratkan surat penerimaan dan memberikan tiga pilihan universitas, jadi saya tetap mencantumkan UoL sebagai pilihan pertama. Informasi tentang beasiswa LPDP dapat dilihat disini dan Chevening disini.

Saya lulus seleksi administrasi beasiswa LPDP dan Chevening. LPDP mengundang saya untuk mengikuti seleksi substansi dan Chevening mengundang saya untuk seleksi wawancara. Hasilnya, saya gagal pada kesempatan pertama seleksi substansi LPDP. Dari hasil penilaian, skor saya jatuh pada tahap wawancara sehingga tidak melewati passing grade yang ditetapkan. Jurusan bisnis bukanlah bidang prioritas, sehingga skor yang ditetapkan, paling tinggi diantara bidang studi lainnya seperti science, engineering atau hukum.

Saya tidak mau menunda waktu, saya kembali mengajukan aplikasi pendaftaran pada periode setelahnya sebelum masa berlaku SKCK saya berakhir. Kali ini, saya sudah mendapatkan surat penerimaan dari UoL. Ketentuan LPDP saat itu adalah masa perkuliahan dimulai minimal enam bulan setelah pengumuman lulus LPDP. Namun, saya tetap melamar, padahal jika dinyatakan lulus, waktu perkuliahan di UoL dimulai dalam waktu tiga bulan. Meskipun demikian, saya lulus seleksi administrasi dan kembali diundang untuk seleksi substansi. Saya tidak boleh gagal, karena hanya ada satu kali lagi kesempatan yang saya miliki sebelum di blok dan tidak diizinkan mengikuti seleksi beasiswa LPDP lagi.

IMG_0964

Mengumpulkan motivasi untuk mendaftar beasiswa

Setelah dinyatakan tidak lulus pada kesempatan pertama, perasaan saya tidak menentu. Rasanya air mata setelah melewati apa yang saya alami di Turki masih belum kering. Penyesalan datang, mengingat saya sudah meninggalkan karir saya sebelumnya dan saya harus mulai dari awal lagi. Cita-cita saya untuk dapat kuliah di luar negeri harus pupus. Saya mulai melamar pekerjaan lagi dan setelah mengikuti serangkaian seleksi, saya diterima bekerja di salah satu perusahaan retailer sepatu terbesar di Asia. Namun, gaji yang tidak sesuai dengan apa yang saya harapkan membuat saya mempertimbangkan penawaran perusahaan tersebut. Satu hari kemudian, saya memutuskan untuk menolak tawaran yang diberikan.

Memang benar terkadang Tuhan memberikan kita tekanan dan masalah agar kita lebih dekat dan senantiasa ingat kepadaNya. Saya benar-benar berharap dengan ibadah yang saya lakukan, Tuhan mengabulkan doa saya agar dapat memperoleh beasiswa dan berangkat ke Inggris. Pamrih, tetapi saya berada pada titik terendah dalam hidup saya. Rencana Tuhanlah yang mengantarkan saya menuju cita-cita. Ketentuan Tuhan atas apa yang saya alami di Turki hingga akhirnya kembali ke Indonesia dan keputusan saya menolak tawaran pekerjaan karena alasan gaji, merupakan keputusan yang tepat. Saya akhirnya dinyatakan lulus beasiswa LPDP. Tidak henti-hentinya saya mengucapkan syukur kepada Tuhan ketika saya menerima email pernyataan tersebut.

Beberapa hari setelahnya, saya menerima email dari Chevening yang menyatakan status saya sebagai Reserved Applicant. Reserved atau cadangan memang tidak berarti penolakan. Kesempatan diterima masih terbuka, menggantikan peserta lain yang tidak memenuhi syarat, seperti tidak melengkapi dokumen (LoA/ IELTS) dalam batas waktu yang ditentukan atau membatalkan beasiswanya. Namun, fokus saya sudah tertuju pada beasiswa LPDP.

Sebagai tahap akhir, LPDP menyusun program selama satu minggu yang dinamakan Persiapan Keberangkatan (PK). Waktu yang sudah sangat singkat sebelum memulai perkuliahan di UoL, PK pun saya ikuti dua minggu setelah pengumuman lulus. Ketika mengikuti PK, saya mendapat email dari Chevening yang menyatakan saya lulus, tidak lagi berstatus reserved. Dengan berbagai pertimbangan, saya memilih melanjutkan proses PK dan memantapkan hati berangkat ke Inggris dengan bantuan beasiswa LPDP.

Capture2

Mendapat penghargaan sebagai 10 peserta terbaik PK-71

Capture3

Menjadi MC selama kegiatan PK berlangsung dan saya mengarang lirik lagu tema PK-71, Cikal Nagari Untuk Negeri

Sebelum berangkat ke Inggris, saya diundang oleh Superstar Education untuk menjadi pemateri seminar pada pameran pendidikan dan beasiswa di Jakarta.

unnamed

Mempresentasikan tata cara mendaftar universitas di Inggris dan melamar beasiswa kepada peserta seminar

Awal September 2016 saya berangkat ke Leeds, Inggris. Berbeda dengan keberangkatan saya ke Turki, kali ini hanya keluarga yang menemani saya di bandara. Berharap bahwa kejadian di Turki tidak akan terulang lagi, Ibu dan Bapak saya tersenyum, mengerti bahwa hidup di Inggris merupakan cita-cita saya sejak kecil.

Selalu berusaha dan yakin bahwa apapun yang terjadi dalam hidup kita merupakan bagian dari proses rencana Tuhan mewujudkan cita-cita yang kita miliki, jika itu adalah hal yang terbaik menurutNya.

3 thoughts on “LPDP Scholarship: Jalan Mencapai Cita-cita

  1. Pingback: Bagaimana Cara Menulis Essay/ Motivation Letter Yang Baik Untuk Mendaftar Beasiswa & Universitas? | Zelamat Pagi!

  2. Pingback: Hidup Sebagai Mahasiswa di Inggris | Zelamat Pagi!

  3. Pingback: The Netherlands Orientation Year Visa | Zelamat Pagi!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.